Dampak Sosial

Pembuatan Konten, Surat Terakhir, dan Luka Sunyi di Kampus

www.lotusandcleaver.com – Kasus tragis mahasiswi Unima yang ditemukan tewas di kamar kos menggemparkan publik, terutama setelah isi surat terakhirnya terbaca. Bukan hanya cerita duka, surat itu juga membuka tabir gelap dugaan pelecehan oleh dosen. Dari sudut pandang pembuatan konten, peristiwa ini menantang nurani: bagaimana menulis, mengungkap fakta, sekaligus menghormati korban. Konten tidak sekadar klik, namun juga cermin nilai kemanusiaan.

Pembuatan konten berbasis tragedi membutuhkan kepekaan ekstra. Di satu sisi, publik berhak tahu kronologi, surat, serta kesaksian. Di sisi lain, korban bukan sekadar objek berita. Ia pernah punya mimpi, masa depan, serta rasa takut yang ditumpahkan ke dalam tulisan terakhirnya. Tulisan ini berupaya menyusun ulang cerita secara etis, menyajikan analisis, juga sudut pandang pribadi, agar kasus semacam ini tidak tenggelam oleh arus informasi sesaat.

Surat Terakhir, Suara yang Tidak Sempat Didengar

Surat mahasiswi itu berisi kronologi dugaan pelecehan oleh sosok berkuasa di kampus. Ia menulis dengan jujur, menandai perasaan jijik, takut, sekaligus pasrah. Di sini, pembuatan konten perlu memposisikan surat sebagai suara terakhir, bukan sekadar bahan sensasi. Setiap kalimat mencerminkan pergulatan batin panjang, sesuatu yang tidak boleh dipotong seenaknya hanya demi judul bombastis.

Bayangkan seorang perempuan muda, berstatus mahasiswa, berada pada posisi hierarki lemah. Dosen punya kuasa menilai, menentukan kelulusan, memberi rekomendasi. Ketimpangan ini membuat korban merasa terjepit. Di suratnya, ia berusaha menyusun kronologi, menjelaskan bagaimana interaksi awal terasa biasa, kemudian berubah menjadi situasi tidak nyaman, lalu bergeser ke bentuk pelecehan. Pembuatan konten berkualitas wajib menangkap nuansa ini secara utuh.

Kata-kata seperti “jijik”, “takut”, atau “tidak berdaya” menegaskan trauma mendalam. Bagi penulis, godaan terbesar ialah mengutip bagian paling dramatis demi menarik pembaca. Namun, pembuatan konten etis harus menahan diri. Alih-alih menelanjangi detail vulgar, penulis bisa menekankan konteks kekuasaan, dampak psikologis, serta kebutuhan perlindungan bagi mahasiswa lain. Dengan begitu, surat almarhumah menjadi bahan renungan kolektif, bukan sekadar konsumsi emosional.

Pembuatan Konten Etis di Tengah Tragedi

Banyak media terpancing lomba kecepatan, mengejar klik, lalu melupakan tanggung jawab etis. Pembuatan konten idealnya tidak berhenti pada “laporan kejadian”, tetapi memeriksa juga bagaimana gaya penulisan memengaruhi cara publik memandang korban. Penyebutan identitas, foto, juga kutipan isi surat perlu diseleksi. Tujuannya sederhana namun penting: meminimalkan reviktimisasi, menjaga martabat, serta memberi ruang berkabung bagi keluarga.

Dari sudut pandang pribadi, saya melihat kasus ini sebagai ujian besar bagi ekosistem pembuatan konten di Indonesia. Apakah kita hanya menyalin, menempel, menambah judul provokatif, lalu selesai? Atau berani mengolah data, mewawancarai ahli, menghadirkan analisis sistemik tentang budaya patriarki di kampus, mekanisme pelaporan pelecehan, serta hambatan birokrasi? Konten yang baik membantu pembaca memahami masalah secara menyeluruh, bukan hanya memicu kemarahan sesaat.

Pembuatan konten bertanggung jawab menuntut empati radikal. Penulis perlu bertanya sebelum menekan tombol publikasi: “Apakah kalimat ini membantu korban dan calon korban lain? Atau justru membuat mereka semakin takut bersuara?” Pertanyaan semacam itu mendorong pergeseran fokus dari eksploitasi tragedi menuju edukasi publik. Dengan demikian, blog, portal berita, hingga akun media sosial dapat berperan sebagai ruang aman untuk berdiskusi, bukan arena penghakiman.

Kampus, Kuasa, dan Harapan kepada Pembuat Konten

Kasus dugaan pelecehan terhadap mahasiswi Unima membongkar kenyataan pahit: kampus belum tentu ruang aman. Di titik ini, pembuatan konten punya peran strategis. Penulis dapat menyoroti celah aturan, menyuarakan perlunya unit aduan independen, mempromosikan edukasi seksualitas sehat, serta mendorong transparansi investigasi. Melalui analisis kritis, cerita tragis mahasiswi tersebut tidak berakhir sebagai arsip duka, melainkan batu loncatan bagi perubahan. Refleksi akhirnya kembali ke diri kita: apakah kita sekadar pembaca pasif, atau mau terlibat menciptakan budaya baru, di mana suara korban dipercaya, didengar, lalu diikuti tindakan nyata demi keadilan?