Pembelajaran Keras di Balik Kasus Perundungan Unsri
www.lotusandcleaver.com – Perdebatan publik soal dugaan perundungan pada program PPDS Mata di Universitas Sriwijaya memantik tanya lebih besar: seberapa jauh kampus memahami makna sesungguhnya dari pembelajaran? Unsri membantah tuduhan pembiaran, namun perbincangan mengenai kultur pendidikan kedokteran terasa baru saja dimulai. Di titik ini, kasus bukan sekadar isu etik internal, melainkan cermin mutu pembelajaran calon dokter spesialis yang kelak memegang keselamatan pasien.
Sering kali kita memuja standar akademik tinggi tanpa menelaah cara mencapainya. Apakah tekanan ekstrem, jam kerja panjang, serta relasi kuasa kaku pantas disamakan dengan proses pembelajaran? Atau justru itu bentuk tradisi lama yang sulit dilepas karena dibungkus alasan profesionalisme? Dari sudut pandang saya, kasus Unsri membuka ruang evaluasi mendalam mengenai batas sehat antara kedisiplinan, bimbingan ketat, serta praktik perundungan terselubung di lingkungan pendidikan tinggi.
Pembelajaran Kedokteran di Persimpangan Jalan
Pendidikan spesialis kedokteran selalu identik ritme kerja padat, tuntutan kompetensi tinggi, serta tanggung jawab besar. Namun, ketika laporan perundungan menyeruak, publik mulai menguji ulang narasi itu. Apakah kerasnya proses benar-benar diperlukan demi kualitas pembelajaran, atau sekadar warisan hierarki senioritas yang luput dikoreksi? Bagi institusi selevel Unsri, jawaban atas pertanyaan tersebut menentukan kepercayaan masyarakat terhadap seluruh ekosistem pendidikannya.
Pihak kampus menampik asumsi pembiaran, menegaskan komitmen penyelesaian internal. Pernyataan seperti itu penting, tetapi belum cukup menghapus keraguan publik. Transparansi proses penanganan, kejelasan sanksi, serta evaluasi kurikulum pembelajaran justru menjadi penentu utama. Tanpa langkah terbuka, bantahan mudah dibaca sekadar manuver defensif, bukan wujud tanggung jawab kelembagaan yang tulus.
Dari kacamata pembelajaran modern, kultur pendidikan kedokteran idealnya bergerak menuju pendekatan berpusat pada peserta didik serta pasien. Itu berarti pembinaan karakter, dukungan psikologis, serta iklim dialogis harus berjalan seiring ketatnya standar klinis. Bila cerita perundungan muncul berulang, ada indikasi bahwa paradigma pembelajaran humanis belum benar-benar mengakar, tertutup tradisi lama yang memaklumi kekerasan verbal maupun non-verbal.
Antara Disiplin, Hierarki, dan Perundungan
Salah satu tantangan besar di program profesi kesehatan ialah membedakan batas jelas antara disiplin, koreksi tegas, serta perundungan. Dalam situasi klinis berisiko tinggi, sikap senior terhadap junior kerap terasa kasar, namun dibenarkan atas nama keselamatan pasien. Di titik abu-abu seperti ini, pembelajaran bisa berubah menjadi pengalaman traumatis bila tidak diimbangi etika komunikasi, empati, serta struktur supervisi jelas.
Masyarakat sering mendengar ungkapan, “Dulu kami lebih parah, tetapi terbukti jadi dokter tangguh.” Kalimat seperti itu menormalisasi kekerasan simbolik sebagai bagian wajib pembelajaran. Menurut saya, logika tersebut rapuh. Ketangguhan profesional bukan buah penderitaan semata, melainkan hasil pembelajaran terstruktur, refleksi kritis, serta dukungan lingkungan sehat. Membiarkan perundungan atas nama tradisi hanya memperpanjang siklus luka lintas generasi.
Hierarki tetap dibutuhkan di dunia kedokteran, terutama ketika keputusan harus cepat, terarah, serta bertanggung jawab. Namun, hierarki tidak perlu identik ketakutan. Sistem pembelajaran seharusnya mendorong junior berani bertanya, mengakui keterbatasan, serta melapor bila ada situasi tidak aman. Jika atmosfer intimidasi dominan, kesalahan bisa disembunyikan, catatan klinis dimanipulasi, bahkan keselamatan pasien terancam. Di sinilah perbedaan halus namun krusial antara kepemimpinan tegas dan perilaku merundung.
Mengubah Krisis Menjadi Ruang Pembelajaran Kolektif
Kasus Unsri, terlepas dari detailnya, menyodorkan peluang langka untuk menjadikan konflik sebagai bahan pembelajaran kolektif. Kampus dapat mengundang pihak independen menilai kultur internal, melibatkan mahasiswa serta residen menyusun kode etik baru, juga memasukkan isu kesehatan mental ke dalam kurikulum. Bagi saya, inilah bentuk tanggung jawab sejati: mengakui kemungkinan adanya masalah, lalu menjadikannya titik tolak pembelajaran menyeluruh, bukan sekadar krisis wibawa. Jika perguruan tinggi berani menempuh jalur reflektif semacam itu, maka dari sebuah kasus berat, lahir generasi dokter spesialis lebih matang, bernurani, serta mampu memadukan keunggulan ilmu dengan kemanusiaan.