Categories: Isu Lingkungan

Greenland, Trump, dan Arah Baru Perubahan Iklim

www.lotusandcleaver.com – Ide Donald Trump untuk menguasai Greenland sempat terdengar seperti lelucon politik. Namun bila dikaitkan dengan perubahan iklim, rencana itu justru membuka sisi gelap ambisi kekuasaan atas wilayah kutub. Di balik gurauan jual beli pulau es, tersimpan ancaman serius terhadap masa depan bumi. Greenland bukan sekadar hamparan salju, melainkan salah satu kunci kestabilan iklim global.

Ketika suhu planet naik, lapisan es Greenland mencair jauh lebih cepat. Celah es yang terbuka mengundang nafsu eksploitasi sumber daya mineral, minyak, dan gas. Di titik inilah perubahan iklim berkelindan dengan politik, ekonomi, serta ego kekuasaan. Jika kawasan rapuh itu dikeruk demi laba jangka pendek, dampaknya tidak berhenti di garis pantai Arktik, tetapi memantul ke setiap benua.

Greenland di Garis Depan Krisis Perubahan Iklim

Greenland menyimpan salah satu lapisan es terbesar di bumi, setelah Antarktika. Es tebal tersebut berfungsi seperti brankas raksasa yang mengunci miliaran ton air. Perubahan iklim memanaskan atmosfer serta lautan, sehingga brankas itu pelan-pelan retak. Pencairan ini menaikkan permukaan laut global, mengancam kota pesisir dari Jakarta hingga New York. Setiap derajat tambahan suhu rata-rata bumi mempercepat laju kehilangan es di wilayah ini.

Selain memengaruhi permukaan laut, lapisan es Greenland berperan besar untuk mengatur sistem iklim. Permukaan es memantulkan sinar matahari kembali ke angkasa. Ketika es mencair, permukaan gelap laut muncul. Laut menyerap lebih banyak panas, memperkuat lingkaran umpan balik perubahan iklim. Fenomena ini dikenal sebagai efek albedo. Jadi, hilangnya es bukan sekadar masalah lokal, melainkan pemicu percepatan pemanasan global.

Di tengah situasi genting itu, ide Trump menguasai Greenland memunculkan kekhawatiran baru. Bukan hanya soal kedaulatan Denmark atau warga Inuit. Tarik-menarik kepentingan geopolitik di kawasan Arktik berkaitan langsung dengan eksploitasi sumber daya fosil. Bila pola lama terus berulang, Greenland dapat berubah dari benteng iklim menjadi tambang raksasa, padahal dunia harus menurunkan emisi secepat mungkin.

Di Balik Ambisi Menguasai Greenland

Pernyataan Trump mengenai keinginan membeli Greenland memang sempat dianggap tidak realistis. Namun sikap itu menyingkap cara pandang terhadap bumi yang melihat wilayah rapuh sebagai komoditas. Greenland dipandang sebagai lahan kosong penuh deposit mineral strategis, minyak, serta gas. Pandangan ini mengabaikan fakta bahwa perubahan iklim sudah menekan ekosistem lokal, juga kehidupan masyarakat adat.

Jika niat mengeruk Greenland berlanjut, eksplorasi sumber daya fosil akan meningkat seiring mencairnya es. Infrastruktur pengeboran, pelabuhan, jalur kapal, serta fasilitas pengolahan energi fosil akan merambah kawasan Arktik. Semua aktivitas tersebut berpotensi menambah emisi gas rumah kaca secara signifikan. Alih-alih memutus ketergantungan pada bahan bakar fosil, ambisi semacam ini justru menjerumuskan dunia lebih jauh ke jurang krisis iklim.

Sebagai penulis, saya melihat rencana menguasai Greenland sebagai simbol kegagalan memahami akar perubahan iklim. Kita sedang menghadapi krisis yang terjadi karena eksploitasi berlebihan terhadap bumi. Namun solusi yang ditawarkan masih berkisar pada eksploitasi baru, di wilayah yang bahkan lebih rentan. Narasi kemajuan versi ini menjanjikan pertumbuhan ekonomi, tetapi mengabaikan biaya ekologis yang akan diwariskan kepada generasi berikut.

Perubahan Iklim, Etika Politik, dan Tanggung Jawab Global

Perubahan iklim seharusnya memaksa pemimpin dunia meninjau ulang cara berkuasa. Greenland tidak boleh dipandang sebagai trofi geopolitik, melainkan wilayah kunci bagi kestabilan sistem bumi. Alih-alih memfasilitasi eksploitasi, negara-negara besar perlu membangun kerja sama perlindungan ekosistem Arktik, mendukung penelitian iklim, serta menjamin hak masyarakat lokal. Jika ambisi penguasaan wilayah menang atas akal sehat ilmiah, kita sedang menyusun skenario bunuh diri kolektif secara perlahan. Refleksi terpenting dari wacana Trump-Greenland ialah ajakan untuk bertanya: apakah kita masih mengizinkan logika tambang menentukan nasib planet, atau berani membangun politik baru yang menempatkan keberlanjutan sebagai fondasi utama peradaban?

Andi Huda

Share
Published by
Andi Huda

Recent Posts

Cyber University: Kampus Muda, Prestasi Mengguncang

www.lotusandcleaver.com – Dunia pendidikan tinggi sering identik dengan kampus tua bersejarah, gedung megah, serta tradisi…

13 jam ago

Saat Hujan Memicu Lubang Raksasa di Bumi

www.lotusandcleaver.com – Beberapa waktu terakhir, publik heboh oleh kemunculan lubang besar misterius di berbagai wilayah.…

2 hari ago

Strategi Health Cerdas untuk Mencegah Superflu

www.lotusandcleaver.com – Isu superflu kembali mencuat seiring perubahan musim serta pola hidup masyarakat modern. Di…

2 hari ago

Revolusi Fashion Alami dari Serat Nusantara

www.lotusandcleaver.com – Di tengah derasnya arus fast fashion, Indonesia menyimpan amunisi kuat untuk perubahan: serat…

5 hari ago

Membaca Ulang Kasus Penganiayaan Argapura

www.lotusandcleaver.com – Kasus penganiayaan di Argapura kembali menegaskan betapa rapuhnya rasa aman di ruang publik.…

6 hari ago

Tragedi Depok: Oknum TNI AL dan Luka Kepercayaan Publik

www.lotusandcleaver.com – Kasus pengeroyokan dua pemuda di Depok yang berujung maut mengguncang kepercayaan publik, terutama…

7 hari ago