Energi & Keberlanjutan

Banjir Sumatra, Transisi Energi dan Harapan dari Desa

www.lotusandcleaver.com – Banjir Sumatra berulang hampir setiap musim hujan. Foto rumah terendam, sawah rusak, juga jalan terputus, terasa seperti kaset yang terus diulang. Banyak orang menyalahkan cuaca ekstrem. Namun akar persoalan jauh lebih kompleks. Pola konsumsi energi berbasis fosil mendorong krisis iklim, lalu memperparah frekuensi banjir Sumatra. Ironisnya, transisi energi Indonesia justru tersendat di tengah ancaman bencana yang meningkat.

Saat proyek besar energi bersih jalan tersendat, warga di garis depan bencana mencari cara bertahan. Muncul berbagai inisiatif energi terbarukan skala kecil, dikelola komunitas. Mulai dari PLTMH di lereng bukit, panel surya di atap mushola, hingga koperasi listrik desa. Di tengah banjir Sumatra serta perubahan iklim, solusi berbasis komunitas tampak sebagai jalan tengah yang rasional, realistis, sekaligus menjanjikan.

Transisi Energi Mandek di Tengah Banjir Sumatra

Indonesia sering mengklaim diri sebagai raksasa energi terbarukan. Potensi surya, angin, air, panas bumi, hingga bioenergi berlimpah. Namun realitas lapangan berjalan pelan. Pembangkit listrik tenaga batu bara masih dominan. Investasi energi bersih tumbuh, tetapi belum mampu mengejar target ambisius. Di sisi lain, banjir Sumatra makin sering menghantam desa pinggir hutan, daerah aliran sungai, serta kawasan pesisir.

Keterlambatan transisi energi tidak sekadar soal teknologi. Ada persoalan regulasi, kepentingan ekonomi, juga desain kebijakan. Skema tarif listrik, perizinan berbelit, serta kontrak jangka panjang PLTU batu bara menahan laju perubahan. Sementara itu, warga yang terkena dampak banjir Sumatra jarang masuk perhitungan utama perencanaan energi nasional. Seolah bencana hanya isu lingkungan, bukan konsekuensi langsung model pembangunan energi kotor.

Dari sudut pandang pribadi, kebijakan energi Indonesia tampak masih terjebak logika besar dan terpusat. Fokus pada megaproyek, jaringan raksasa, serta skala nasional. Padahal, kerentanan iklim terasa pada skala lokal: satu kampung di tepi sungai, satu dusun di lereng bukit. Ketika banjir Sumatra meluas, listrik mati, pompa air berhenti bekerja, akses informasi terputus. Disinilah kelemahan sistem energi terpusat terlihat jelas.

Solusi Komunitas: Dari Sungai Kecil ke Energi Bersih

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai desa mulai bereksperimen dengan solusi energi terbarukan berbasis komunitas. Misalnya, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro di sungai kecil. Debitnya mungkin tak besar, namun cukup menyuplai lampu rumah, mesin jahit, hingga penggilingan padi. Ketika banjir Sumatra menimbulkan gangguan jaringan listrik utama, pembangkit kecil di hulu sungai sering kali tetap beroperasi, atau setidaknya cepat pulih.

Selain mikrohidro, panel surya atap perlahan muncul sebagai alternatif rasional. Biaya awal memang cukup tinggi, tetapi model patungan, koperasi, serta dukungan LSM membuatnya lebih terjangkau. Atap sekolah, masjid, serta rumah warga jadi ruang produksi energi. Ketika hujan lebat memicu banjir Sumatra, sistem surya yang terpasang di titik-titik tinggi bisa menjaga listrik darurat bagi posko pengungsian atau pusat informasi desa.

Sisi menarik dari solusi komunitas tidak hanya terletak pada teknologi, melainkan kepemilikan sosial. Warga terlibat perencanaan, urunan modal, serta pengelolaan operasional. Hal tersebut menumbuhkan rasa memiliki, juga tanggung jawab kolektif. Menurut saya, inilah beda paling mendasar dibanding pendekatan proyek top-down. Energi tidak lagi sekadar angka megawatt pada laporan pemerintah, melainkan bagian penting strategi bertahan hidup menghadapi banjir Sumatra serta krisis iklim.

Dari Banjir Sumatra Menuju Energi yang Lebih Adil

Banjir Sumatra seharusnya dibaca sebagai alarm keras bahwa arah pembangunan energi perlu dikoreksi. Transisi tidak cukup berbicara target emisi atau kapasitas pembangkit besar. Keadilan iklim menuntut suara komunitas terdampak bencana masuk meja perencanaan. Melalui proyek energi terbarukan skala desa, Indonesia punya peluang mempercepat pengurangan emisi sekaligus memperkuat ketahanan warga. Langkah kecil di satu kampung, satu sungai, satu atap rumah, bila dirajut konsisten, dapat menjadi fondasi sistem energi lebih tangguh, hijau, serta manusiawi. Pada akhirnya, masa depan tanpa banjir Sumatra berulang hanya mungkin tercapai bila perubahan pola energi berjalan serentak: dari atas lewat kebijakan kuat, dari bawah lewat inisiatif komunitas yang terus tumbuh.